Sepakbola yang Sunyi: Kylian Mbappé di Antara Ketenaran dan Kehampaan

Di tengah sorot lampu yang memantul di permukaan rumput hijau, Kylian Mbappé berdiri tanpa senyum. Stadion bergemuruh, namun wajahnya datar — seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan bahasa di tengah pesta yang diciptakannya sendiri. “People think football is only joy,” katanya pelan dalam satu wawancara dengan L’Équipe, “but sometimes, it’s a cage built from your own dreams.” Kalimat itu menjadi refleksi sederhana dari beban yang jarang dibicarakan dalam dunia yang penuh sorak-sorai.

Mbappé memainkan peran penting dalam membawa Prancis menjuarai Piala Dunia 2018. (Credit: Michael Regan/FIFA/Getty Images)

Continue reading “Sepakbola yang Sunyi: Kylian Mbappé di Antara Ketenaran dan Kehampaan”

Kopi, Karbon, dan Krisis Iklim

Ada sesuatu yang paradoks dalam secangkir kopi. Ia sederhana, tapi sarat makna. Di setiap tegukannya, manusia seperti meneguk sejarah, kebudayaan, kerja keras, dan pada akhirnya — jejak dari krisis zaman ini. Dalam aroma yang menenangkan, kopi menyimpan kisah tentang perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi, dan pergulatan manusia mempertahankan harmoni antara kenikmatan dan keberlanjutan.

Ilustrasi Eksistensi Kopi di Tengah Ancaman Perubahan Iklim (Credit: ChatGPT)

Continue reading “Kopi, Karbon, dan Krisis Iklim”

Ha-Joon Chang: Ketika Ekonomi Global Kembali Memasak dengan Resep Lama

Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menyaksikan kembalinya semangat proteksionisme yang dulu dianggap sebagai sisa masa lalu. Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, subsidi industri hijau di Eropa, hingga kebijakan larangan ekspor bahan mentah di Indonesia, semua menandai perubahan arah dari globalisasi yang pernah dielu-elukan.

Di tengah arus ide yang kembali menekankan “nasionalisme ekonomi,” nama Ha-Joon Chang kembali mencuat — seorang ekonom heterodoks yang sejak dua dekade lalu telah mengingatkan dunia bahwa kisah besar tentang perdagangan bebas penuh dengan mitos yang sengaja disembunyikan.

Foto Ha-Joon Chang, seorang ekonom kelembagaan asal Korea Selatan (Credit: SOAS University of London)

Continue reading “Ha-Joon Chang: Ketika Ekonomi Global Kembali Memasak dengan Resep Lama”

Meninjau Batas Pemikiran Aghion, Howitt, dan Mokyr dalam Teori Pertumbuhan Modern

Suasana di Aula Besar Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia terasa khidmat ketika nama Philippe Aghion, Peter Howitt, dan Joel Mokyr diumumkan sebagai penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun ini. Tepuk tangan panjang menggema, bukan hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap karya mereka, tetapi juga sebagai pengakuan atas ide besar yang telah membentuk imajinasi ekonomi global selama tiga dekade terakhir: bahwa inovasi adalah sumber utama kemajuan umat manusia.

Ketiganya mewakili dua dunia yang sering dipertentangkan namun kali ini disatukan oleh Nobel: dunia teori ekonomi matematis dan dunia sejarah ide. Aghion dan Howitt dikenal sebagai arsitek teori pertumbuhan endogen, sementara Mokyr adalah sejarawan ekonomi yang menafsirkan kemajuan sebagai hasil dari evolusi budaya pengetahuan. Nobel ini seolah menegaskan kembali keyakinan klasik: bahwa dari mesin uap hingga kecerdasan buatan, dari pabrik tekstil Manchester hingga laboratorium bioteknologi Boston, inovasi adalah nadi utama peradaban.

Namun di luar aula yang penuh kilau itu, dunia sedang berada dalam kegelisahan.
Ketimpangan melebar, krisis iklim mengancam, dan teknologi digital mengubah pekerjaan lebih cepat daripada kemampuan manusia beradaptasi. Inovasi yang dahulu diyakini membawa kemakmuran kini justru menciptakan ketidakpastian baru. Dalam konteks inilah, penghargaan Nobel bagi Aghion, Howitt, dan Mokyr menjadi momentum refleksi: apakah gagasan tentang kemajuan yang mereka tawarkan masih relevan di dunia yang makin rapuh?

Philippe Aghion, Peter Howitt, and Joel Mokyr (Credit: NBER)

Continue reading “Meninjau Batas Pemikiran Aghion, Howitt, dan Mokyr dalam Teori Pertumbuhan Modern”

Utang, Pertumbuhan, dan Kontroversi: Drama Ilmiah dan Politik

Pada tahun 2010, dunia ekonomi dikejutkan oleh sebuah makalah yang tampaknya sederhana namun penuh dampak: “Growth in a Time of Debt” karya Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff. Mereka menyatakan bahwa negara dengan utang publik lebih dari 90% dari Produk Domestik Bruto (PDB) akan mengalami pertumbuhan ekonomi negatif.

Temuan ini langsung menjadi rujukan global. Di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, angka ini digunakan sebagai alasan untuk menerapkan kebijakan penghematan fiskal (austerity policies) yang ketat—pemotongan belanja publik, penundaan stimulus, dan pembatasan investasi publik—dalam keyakinan bahwa utang tinggi harus ditekan segera agar ekonomi tidak runtuh.

Namun, seperti plot cerita yang tak terduga, beberapa tahun kemudian muncul twist besar. Tiga peneliti dari University of Massachusetts—Thomas Herndon, Michael Ash, dan Robert Pollin—mengungkap adanya kesalahan perhitungan Excel dan beberapa keputusan metodologis yang kontroversial dalam makalah Reinhart & Rogoff. Setelah diperiksa ulang, ternyata negara-negara dengan utang lebih dari 90% PDB tetap tumbuh positif, meski sedikit lebih lambat dibandingkan negara dengan utang lebih rendah.

Ilustrasi Tarik Menarik Dunia Akademik dan Politik (Credit: ChatGPT)

Continue reading “Utang, Pertumbuhan, dan Kontroversi: Drama Ilmiah dan Politik”

Paradoks Pengalaman: Ketika Kebijakan Berhenti Bertumbuh

Di sebuah kantor pemerintahan yang megah, seorang menteri senior duduk di balik meja kayu mahoni yang mengilap. Tumpukan dokumen tersusun rapi di hadapannya, masing-masing memuat laporan ekonomi terkini. Ia telah menduduki jabatan ini selama lebih dari satu dekade, menjadi simbol kestabilan di tengah gejolak politik dan ekonomi. Dengan pengalaman panjangnya, ia dipuji sebagai penjaga neraca keuangan negara yang tak tergoyahkan. Namun, di balik semua pencapaian itu, pertanyaan besar muncul: apakah stabilitas yang ia ciptakan telah mengorbankan peluang untuk tumbuh?

Ilustrasi Pohon tua yang kokoh: Akar-akar kuat mencengkeram tanah, tetapi cabang dan daunnya kering, tak lagi tumbuh (Credit: ChatGPT)

Continue reading “Paradoks Pengalaman: Ketika Kebijakan Berhenti Bertumbuh”

Makna di Balik Pengangguran “Terendah”

Ketika pemerintah menyatakan bahwa tingkat pengangguran Indonesia telah mencapai level terendah sejak krisis 1998, pernyataan tersebut secara alami memicu berbagai tajuk utama yang mengumandangkan keberhasilan ekonomi. Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menegaskan bahwa “tingkat pengangguran nasional telah mencapai titik terendah sejak krisis 1998,” dengan merujuk secara eksplisit pada data Badan Pusat Statistik (BPS). Sementara itu, BPS dalam laporan Mei 2025 mengonfirmasi bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia memang turun menjadi 4,76 persen pada Februari 2025, sedikit lebih rendah dibanding 4,82 persen pada tahun sebelumnya.

Namun, di balik atmosfer kemajuan, terdapat realitas yang jauh lebih kompleks—sebuah situasi di mana status bekerja tidak selalu sejalan dengan keamanan ekonomi yang nyata. Baik di pusat-pusat kota maupun daerah pedesaan, narasi di balik “pengangguran terendah” memperlihatkan bahwa kuantitas pekerjaan sering kali mengorbankan kualitas dan ketahanan. Dengan pasar kerja yang semakin bergantung pada peran informal dan pekerjaan tanpa kepastian, perbaikan statistik berisiko menutupi kerentanan yang mendasar.

Feature ini berusaha mengupas lapisan makna di balik angka-angka tersebut—menjelajahi bagaimana pengukuran pengangguran dapat mengaburkan kerentanan sosial ekonomi banyak orang Indonesia. Saat sebuah tajuk memberitakan “pengangguran terendah,” penting untuk bertanya: siapa yang dihitung sebagai bekerja, siapa yang tersembunyi, dan jenis pekerjaan apa yang sebenarnya membentuk angka tersebut?

Dalam bangsa sebesar dan seberagam Indonesia, struktur ekonomi selalu ditenun oleh formalitas dan informalitas, kestabilan dan kerentanan. Dengan demikian, frasa “pengangguran terendah” seharusnya dipandang lebih dari sekadar pencapaian untuk dirayakan—ia juga harus menjadi sinyal untuk memperdalam pemahaman atas realitas pasar tenaga kerja.

Ilustrasi Pencari Kerja yang Berebut Kursi Lowongan Kerja Terbatas (Credit: ChatGPT)

Continue reading “Makna di Balik Pengangguran “Terendah””

Esai untuk Peraih Nobel Ekonomi Tahun Ini

The Royal Swedish Academy of Sciences baru saja memberikan Penghargaan Nobel Ekonomi 2024 kepada Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A. Robinson (untuk selanjutnya saya sebut saja, AJR) atas karya mereka yang diklaim berhasil menjelaskan bagaimana institusi memengaruhi kemakmuran.

Jujur saja, saya telah menantikan momen ini sejak lama, bukan karena saya setuju dengan seluruh pemikiran mereka, tetapi karena pendekatan mereka yang menawarkan perspektif baru dalam memahami bagaimana institusi terbentuk dan berfungsi.

Saya menghargai upaya mereka untuk mengkaji peran institusi dalam membentuk kondisi sosial dan ekonomi suatu negara, sekalipun saya tak bisa sepenuhnya sepakat dengan klaim-klaim mereka tentang institusi sebagai faktor tunggal yang menentukan keberhasilan suatu bangsa.

Namun, saya tak bisa sepenuhnya sepakat dengan gagasan bahwa sejarah ekonomi dunia, terutama dari perspektif Barat, begitu hitam-putih. Apakah institusi yang baik benar-benar menjadi kunci utama dalam kisah sukses Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya? Jika ya, lalu bagaimana kita menjelaskan kebangkitan ekonomi Tiongkok yang seakan meruntuhkan seluruh fondasi teori mereka?

Daron Acemoglu, Simon Johnson and James Robinson (Credit: Niklas Elmehed © Nobel Prize Outreach)

Continue reading “Esai untuk Peraih Nobel Ekonomi Tahun Ini”

Menelusuri Jejak Revolusi Sepak Bola Arab Saudi: Dari Yang Tak Dikenal Hingga Jadi Sorotan dunia

Terdengar seperti sebuah dongeng yang tak mungkin terjadi: bintang-bintang sepak bola papan atas dunia seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, N’Golo Kanté, dan Neymar telah bergabung dengan Saudi Pro League (SPL) – liga sepak bola kasta teratas di Arab Saudi. Tidak ada yang dapat memungkiri, fakta ini telah mengguncangkan dunia sepak bola dan mengubah pandangan kita tentang apa yang bisa dicapai oleh sebuah liga yang sebelumnya hampir tak dikenal.

Sebuah pertanyaan yang mungkin menghantui pikiran banyak orang adalah: bagaimana mungkin SPL, entitas yang dahulu tidak terdengar namanya, tiba-tiba menjadi topik utama dalam percakapan sepak bola global? Kita harus berangkat dari awal perjalanan.

Cristiano Ronaldo calls 500th goal ‘great feeling’ in ‘very solid’ win for Al-Nassr (Credit: Goal.com)

Continue reading “Menelusuri Jejak Revolusi Sepak Bola Arab Saudi: Dari Yang Tak Dikenal Hingga Jadi Sorotan dunia”

Menguji Ketangguhan Daerah

Siapa yang menyangka, 2020 merupakan tahun dengan dua wajah ekonomi dunia yang kontras.

Di awal tahun, wajah optimisme muncul dari adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk mengakhiri perang dagang. Setidaknya, kesepakatan tersebut sedikit mengurangi ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dunia. Tidak mengherankan, Dana Moneter Internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,3% pada tahun 2020, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu sekitar 2,9%.

Baru berjalan beberapa bulan, wajah ekonomi dunia berubah menjadi pesimisme. Penyebaran Covid-19 yang masif telah mengirimkan hampir seluruh negara ke ambang resesi ekonomi. Ekonomi Indonesia pada kuartal pertama hanya tumbuh 2,97%, dimana angka ini sangat jauh dari target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan di dalam APBN 2020 sekitar 5,3%.

Potret Masamba Pasca Banjir [Credit: Fanspage FB Kota Malili]
Continue reading “Menguji Ketangguhan Daerah”